Memotret Wajah Singapore Inc. di Indonesia: Jejak Kapital, Diplomasi, dan Ekonomi Intelijen Singapura di Indonesia Paska-Krisis 1998
| AUTHOR | Ahmad, Kamaruzzaman Bustamam |
| PUBLISHER | Kba13 Insight (10/19/2025) |
| PRODUCT TYPE | Paperback (Paperback) |
Singapura bukan hanya tetangga kecil yang kaya. Ia adalah kekuatan korporat yang mengendalikan jantung perekonomian Indonesia.
Sejak krisis moneter 1998, perusahaan-perusahaan Singapura telah memasuki sektor-sektor paling strategis di Indonesia-dari perbankan, telekomunikasi, real estate, hingga kelapa sawit dan e-commerce. Di balik wajah ramah investasi, tersembunyi jaringan kekuasaan yang melibatkan dana negara, diplomasi rahasia, hingga operasi intelijen bisnis yang canggih.
Dalam buku ini, Prof. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D. membongkar bagaimana "Singapore Inc." - gabungan kekuatan korporasi dan negara - merancang ekspansi sistematis ke Indonesia. Berdasarkan data primer, laporan think tank internasional, hingga dokumen yang jarang diungkap, buku ini menyajikan:
Daftar korporasi Singapura yang menguasai sektor vital RI.
Strategi "mengatur dari jarak jauh" melalui merger, akuisisi, dan proxy lokal.
Peran intelijen ekonomi dan soft power Singapura dalam memengaruhi kebijakan Indonesia.
Mekanisme kontrol yang tidak disadari publik, namun mengunci kedaulatan ekonomi bangsa.
Apakah Indonesia sedang menjual kedaulatannya melalui pintu belakang investasi? Siapa yang benar-benar memegang kendali?
Buku ini tidak hanya mengungkap kenyataan mengejutkan, tapi juga mengajak pembaca berpikir ulang tentang hubungan Indonesia-Singapura, dan bagaimana kita harus merumuskan ulang strategi ekonomi nasional ke depan.
Cocok dibaca oleh:
Akademisi, mahasiswa, peneliti geopolitik & ekonomi-politik.
Jurnalis, pengamat hubungan internasional, dan pembuat kebijakan.
Masyarakat umum yang ingin memahami siapa yang sebenarnya memegang kendali atas ekonomi Indonesia hari ini.
Berani membaca berarti berani membuka mata. Jangan beli narasi, pahami faktanya.
"Memotret Wajah Singapore Inc. di Indonesia" adalah karya penting yang akan mengguncang persepsi Anda tentang hubungan regional yang selama ini dianggap biasa saja.
Singapura bukan hanya tetangga kecil yang kaya. Ia adalah kekuatan korporat yang mengendalikan jantung perekonomian Indonesia.
Sejak krisis moneter 1998, perusahaan-perusahaan Singapura telah memasuki sektor-sektor paling strategis di Indonesia-dari perbankan, telekomunikasi, real estate, hingga kelapa sawit dan e-commerce. Di balik wajah ramah investasi, tersembunyi jaringan kekuasaan yang melibatkan dana negara, diplomasi rahasia, hingga operasi intelijen bisnis yang canggih.
Dalam buku ini, Prof. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D. membongkar bagaimana "Singapore Inc." - gabungan kekuatan korporasi dan negara - merancang ekspansi sistematis ke Indonesia. Berdasarkan data primer, laporan think tank internasional, hingga dokumen yang jarang diungkap, buku ini menyajikan:
Daftar korporasi Singapura yang menguasai sektor vital RI.
Strategi "mengatur dari jarak jauh" melalui merger, akuisisi, dan proxy lokal.
Peran intelijen ekonomi dan soft power Singapura dalam memengaruhi kebijakan Indonesia.
Mekanisme kontrol yang tidak disadari publik, namun mengunci kedaulatan ekonomi bangsa.
Apakah Indonesia sedang menjual kedaulatannya melalui pintu belakang investasi? Siapa yang benar-benar memegang kendali?
Buku ini tidak hanya mengungkap kenyataan mengejutkan, tapi juga mengajak pembaca berpikir ulang tentang hubungan Indonesia-Singapura, dan bagaimana kita harus merumuskan ulang strategi ekonomi nasional ke depan.
Cocok dibaca oleh:
Akademisi, mahasiswa, peneliti geopolitik & ekonomi-politik.
Jurnalis, pengamat hubungan internasional, dan pembuat kebijakan.
Masyarakat umum yang ingin memahami siapa yang sebenarnya memegang kendali atas ekonomi Indonesia hari ini.
Berani membaca berarti berani membuka mata. Jangan beli narasi, pahami faktanya.
"Memotret Wajah Singapore Inc. di Indonesia" adalah karya penting yang akan mengguncang persepsi Anda tentang hubungan regional yang selama ini dianggap biasa saja.
